"Tua adalah sebuah kepastian, tetapi menjaga jiwa petualang tetap hidup adalah pilihan."
Ketika banyak Wanita usia early 50 mulai melakukan pengereman kegiatan, dalam pikiran saya belum terlintas untuk injak rem. Justru kami berdua mencoba mengisi jendela kecil disela-sela kesibukan kami dengan explore outdoor activity. Tiba-tiba terlintas dibenak kami untuk kedua kalinya naik Rinjani, awalnya Bersama anak-anak tahun 2016 dan sekarang hanya kami berdua naik Kembali gunung Rinjani tahun 2023. Pendakian kali ini kami memilih jalur Senaru dan rencananya akan Kembali lewat jalur Torean. Kami sangat terobsesi untuk melewati jalur Torean karena nonton di youtube channel indah banget seperti settingan film Jurassic Park.
Semua peralatan dan persiapan fisik sudah kita berdua lakukan, youtube channel tentang penanjakan via Senaru yang konturnya hutan banyak akar-akar dan nanjak terus sampai atas juga sudah dipelajari, jalur pulang via Torean yang Panjang dan perlu persiapan fisik maupun mental sudah juga dipersiapkan.
Tiket check
Porter check
Pemandu perjalanan check
Hotel check
Baju dingin check
Jas hujan check
Sepatu outdoor check
Yes, we are ready.
Tibalah waktunya kami berangkat, 24 jam sebelum berangkat team pemandu menanyakan tiket kami karena mau menjemput di bandara. Saya share tiket ke mereka dan dalam waktu 5 menit mereka Kembali reply chat “bu, ini kok tiket ke Labuan Bajo bukan Lombok” whaaatttt Masya Allah segera saya cek lagi tiket pesawat, dan bene raja tiketnya LBJ (Labuan Bajo) bukan LOP (Lombok Praya) langsung lemes deh gimana ini caranya kurang dari 24 jam baru ngeh kalau salah pesen. Call suami minta liburan dirubah aja ke pantai daripada gunung dan DITOLAK. Akhirnya say acari tiket pergi tujuan Lombok dan reschedule tiket pulang untung masih tersedia hahaha, lega campur kesel dengan kebodohan yang terjadi.
Ok, sekarang kita cerita langsung perjalanan menuju pelawangan atau tempat penginepan di Rinjani ya, Start jam 7 pagi dibawa pick up ke titik awal penanjakan di Senaru. Sampai disana kita mendaftar dan berdoa terlebih dahulu barulah kita memulai perjalanan. Rinjani via Senaru sangatlah berbeda dengan pendakian via Sembalun yang kami tempuh sebelumnya. Senaru adalah hutan yang harus ditembus, berjalan menanjak dengan akar pepohonan yang perlu kami lewati, ada yang akar besar maupun kecil. Karena hutan yang lebat yang kami lewati, perjalanan sangatlah enak, adem berbeda dengan Sembalun yang harus melewati savana panjang yang langsung kena kulit terik mataharinya.
Kami sampai di Pos 2 sekitar jam 11 siang, disana sudah banyak kelompok-kelompok kecil yang kebanyakan bule sedang istirahat makan siang. Makan siang disana sudah ada porter yang siap sedia masak untuk kami termasuk buah yang sudah disusun rapi bak restaurant mewah di Jakarta. Hanya saja makan disana bener-bener di dalam hutan lebat ditemani monyet-monyet disekeliling kami yang siap menampung sisa-sisa makanan, mungkin karena makanan di dalam hutan pun sudah cukup membuat bosan kalangan monyet, mereka mau fine dining sekali-sekali J.
Setelah cukup kami istirahat, kami lanjutkan perjalanan sayangnya ditengah perjalanan hujan deras turun, kami buka jas hujan tipis yang sudah disiapkan dan kami menembus hujan dan hutan demi bisa tetap mencapai pelawangan sebelum gelap. Satu-satu Langkah kaki kami menyisir jalan setapak yang penuh akar besar dan licin karena hujan.
Singkat cerita akhirnya hujanpun reda dan Langkah kaki kami sudah membawa kami melewati hutan dan saat ini kami dihadapkan dengan jalan terjal bebatuan sebelum sampai di pelawangan. Walaupun sudah istirahat berkali kali tetapi Ketika melihat curamnya tanjakan berbatu sempet kami langsung merasa Lelah lagi. Duduk dulu, sambal mengeluarkan gula manis dari perbekalan kami, makan sedikit untuk menambah tenaga. Setelah istirahat sekitar 5menit, kami memutuskan meneruskan perjalanan menanjak dan bebatuan itu supaya sampai masih bisa melihat pemandangan indah di sore hari. Bismillah, satu kaki demi satu kaki kami langkahkan Bersama nafas yang sudah mulai satu-satu dan mencoba untuk tetap mengatur nafas. Pelan, perlahan, setapak, istirahat sejenak, jalan lagi sampai akhirnya kami sampai di jalanan rata pelawangan Alhamdulillah. Kami dibawa menuju tenda yang sudah siap dibangun cepat oleh para porter jagoan Rinjani yang sudah sampai lebih dulu disana.
Sampai tenda, hal pertama yang kami lakukan adalah ganti baju basah kami agar tidak sakit. Setelah itu, kami berkeliling melihat pemandangan Rinjani yang indah sekali, melihat anak Rinjani gagah menjulang diantara danau sagara anak. Nikmat manalagi yang kau dustakan. Subhanallah Indahnya.
Setelah menikmati pemandangan dan makan minum yang sudah disediakan kami mencoba mencari sinyal disana karena tepat disamping kami itu ada Menara BTS Telkomsel berdiri tegak, waaahhh ada sinyaaalllll, langsung kami kabari anak-anak dari puncak Rinjani. Oh senangnya teknologi memang bener-bener membantu kami tetap terkoneksi dengan orang-orang di rumah untuk bisa melepas rindu sesaat.
Esok harinya, adalah jadwal kami turun menuju Torean dan nantinya akan nginap 1 hari lagi di gunung. Tetapi karena baju kami basah semua dan kami juga sudah sangat Lelah akhirnya kami bicara dengan guide kami untuk tidak melanjutkan turun via Torean demi keselamatan. Sedih rasanya tetapi kami juga harus mengukur diri, udah penanjak amatir, gak muda lagi tapi kalau maksain diri malah bikin susah orang. Jadi kami urungkan lanjut dan akhirnya start turun tengah hari.
Tidak ada kata menyesal, dan kami bertekat untuk Kembali lagi ke Rinjani via Torean. Rinjani, tunggu kami ya. (Sarcil)
Diterbitkan pada: 24 Agustus 2026
Oleh: kompergas