Behind every successful woman is a tribe of other successful women who have her back
Hmmm mulai dari mana ya, Intinya saya bangga dan salut sama wanita yang satu ini, mba Tatik namanya. Saat ini dia sukses mengembangkan pabrik tahu di Magelang kampungnya yang produksinya sudah sekitar 5 kwintal per hari.
Bermula dari Mba Tatik ini seorang baby sitter saya dari tahun 2000 waktu anak saya si kembar yang pertama lahir dan bekerja disini selama 15 tahun untuk sebuah cita-cita menjadi pengusaha mandiri. Dari ketika dia bekerja sebagai baby sitter dia itu sangat rajin, cerdas dan juga kreatif, dia bekerja dari sebelum ayam berkokok sampai bulan muncul dan tak ketinggalan dia bangun malam untuk membantu saya mengurus 2 anak kembar itu jika dalam keadaan sakit. Uang yang dia dapatkan dari hasil kerja ini dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk bisa membeli sepetak tanah di kampungnya. Saya inget banget tanahnya Ketika sudah terbeli dia membangun rumah dari pondasi terlebih dahulu dari uang simpanannya kemudian berhenti membangun karena uangnya belum terkumpul. Dan Mba Tatik tanpa banyak keluh kesah dia jalani tahun demi tahun agar rumah di kampungnya terbangun. Finally, rumahpun jadi.
Mba Tatik sering menceritakan keinginannya untuk membuat pabrik tahu ketika dia masih bekerja di rumah saya. Ketika itu dia sudah menikah dan mencoba membangun bisnisnya dari Jakarta beserta suaminya yang berada di kampung. Masih ingat banget di ingatan saya ketika dia telponan sama suaminya untuk berdiskusi tentang mesin tahu yang mereka buat rusak. “lho piye tho mas, ora iso sampeyan akali po?”. Atau ketika mereka membahas bagaimana memulai memasarkan tahunya, “mas ojo mek nunggu pelanggan, mbo yo sampeyan nang pasar mas jajake tahune”. Begitu gay amba Tatik yang seorang CEO tahu mengarahkan partnernya yang bekerja di remote area wilayah magelang.
Yang membuat saya salut ketika mereka berdua merintis bisnisnya, mereka berada pada jarak yang tidak dekat, mba Tatik selain bekerja sebagai baby sitter dia pun menjadi seorang arranger bagi pembangunan bisnisnya di kampung. Ketika itu dalam keadaan hamil dan tetap meminta agar diberikan kesempatan untuk terus bekerja di tempat saya sambil terus mencoba membangun bisnisnya di kampung, disini saya hanya bisa mensupport dia dan keluarga kecilnya. Tidak hanya ketika mba Tatik hamil saja dia terus bekerja di rumah saya, ketika anaknya Nabila lahir dia ikut ke Jakarta dan dirawat di rumah saya Bersama anak saya yang kecil yang jarak lahirnya hanya beda 1 tahun. Dalam keadaan punya anak sendiri dan sekaligus merawat anak saya yang kecil, dia tetap sigap dan bertanggung jawab, dan jangan pernah lupa dia tetap memantau bisnis kecilnya di kampung.
Sampai tibalah saat akhirnya mba Tatik memutuskan untuk 100% berkontribusi pada bisnis produksi tahu yang telah dia rintis sejak awal. Masih inget kata-katanya ketika dia mencoba untuk menyampaikan niatnya, “ma, kayaknya aku harus pulang kampung soalnya pabrik tahu gak iso ditinggal je”. Dengan berat hati namun bercampur bangga akhirnya anak saya yang sudah sangat dekat dengan mba Tatik dan juga saya yang sering menjadi teman curhat berbagai hal harus melepaskan dia demi masa depan dia dan keluarganya yang lebih baik. Yang saya bisa support mba Tatik hanya sedikit tambahan modal dan doa agar dia dan keluarga diberikan kelancaran dalam usahanya.
Tahun berganti tahun dan sudah beberapa kali saya dan keluarga mampir ke tempat mba Tatik dan melihat perkembangan pabrik tahunya. Awalnya dari dapur kecil belakang rumahnya yang dia jadikan pabrik, beberapa tahun berlalu ketika kesana lagi sudah ada perkembangan mba Tatik membeli tanah sebelahnya untuk dia perluas pabriknya, wah senangnya. Pas kesana lagi pabriknya sudah semakin luas ditambah dengan kandang sapi, kolam lele dan juga pelihara entok. Wah senangnya.
Diterbitkan pada: 2 Juni 2026
Oleh: Anhar Hawari, S.Kom