By: Evi Zulkarnain
Hati-hati kalau sudah tua jangan lari, bahaya buat lutut. Ngapain sih ikut-ikutan lari?
Waah…hebat ikutan Marathon!
Itu sebagian komentar yang pernah saya dengar terkait urusan lari. Sebenernya gimana sih ceritanya? OK kita bahas sedikit disini yaaaa.
Saya mau cerita dulu awal mula ikutan hobby lari. Ini bermula di tahun 2017. Saat itu terdengar kabar bahwa akan diadakan Event lari ITB Ultramarathon yang pertama kali. Rute dan jaraknya sensasional! Mulai lari (Start) di kota Jakarta dan berakhir (finish) di kampus ITB di kota Bandung, jadi berlari lintas kota dan lintas propinsi menempuh jarak sekitar 170 kilometer. Memang panitia penyelenggara yang para alumni dan dosen-dosen ITB itu nggak mau nanggung bikin acara, yang gila sekalian. Eits.. tapi jarak 170 km ini tidak harus dilarikan sendirian, bisa dilarikan secara bergantian alias estafet atau relay. Jadi bisa dilarikan oleh 16 orang pelari secara bergantian, yang masing-masing “hanya” menempuh jarak sekitar 10-11 km. Saat itu saya dan teman-teman se-angkatan di ITB 1988 (masuk kuliah di tahun 1988) tidak mau kalah semangat untuk ikut berpartisipasi. Jadilah sibuk mengumpulkan teman-teman yang terlihat pernah posting lari atau kayaknya bisa lari. Akhirnya bisa dikumpulkan 15 orang teman yang bersedia membentuk satu team lari, jadi ada satu orang teman yang terpaksa harus berlari dua kali supaya cukup untuk Relay-16 tersebut, karena saat itu masih susah untuk mencari yang suka atau berani ikutan lari. Saya sendiri pada saat itu belum pernah sama sekali ikutan lari dan tidak ikut berlari, tapi ditunjuk sebagai Captain team, alias yang mengurusi team. Singkat cerita, event pertama ini berjalan dengan sukses dan penuh sukacita. Nah, dampak sangat positif dari acara ini adalah menimbulkan banyaknya komunitas lari di lingkungan alumni ITB. Semua mendadak hobby lari. Jadi nyaris di setiap angkatan, terutama angkatan tua (90’an, 80’an dan 70’an) mempunyai komunitas lari masing-masing dan rajin lari bersama, sampai sekarang.
Nah, jadi kalau melihat komentar pertama diatas, bahwa kalau sudah tua itu jangan lari dan berbahaya untuk lutut, ini tidak sepenuhnya benar. Betul bisa berbahaya untuk lutut bila larinya sembarangan, tidak didukung latihan yang benar, cara berlari dan sepatu yang tepat.
Sejak pertama kali terpapar ikutan hobby berlari di tahun 2017 itu, sudah banyak event atau race lari yang saya ikuti. Menang nggak? Duh kalau ikut event lari itu kita nggak perlu menang untuk dapat medali, semua peserta lari bisa dapat medali asalkan berlari sampai garis finish. Dan memang untuk kelas pelari hore begini tidak mengejar gelar juara. Rame-rame berlari sampe finish saja sudah senang. Yang dapat gelar juara dan hadiah uang itu biarlah jatahnya para pelari professional.
Sekalian mau share ya, event atau race lari itu ada beberapa kategori berdasarkan jarak yang harus ditempuh: 5K – 5 kilometer atau dikenal juga sebagai Fun Run; 10K – 10 Kilometer; 21K (tepatnya 21,098 kilometer) atau disebut juga Half Marathon/HM, dan 42 K (tepatnya 42,195 kilometer) atau disebut Marathon/Full Marathon/FM. Naah, tapi masyarakat awam seringnya menyebut semua jarak lari tersebut sebagai MARATHON. Padahal yang benar-benar Marathon itu adalah yang jaraknya 42 kilometer tadi. Apa ada lomba lari dengan jarak yang lebih jauh lagi? Ada, itu namanya UltraMarathon, jaraknya diatas 50 kilometer, contohnya: ITB Ultramarathon yang menempuh jarak 170 kilometer (atau 200 kilometer tergantung rute yang dipilih panitia) dari Jakarta menuju Bandung melewati jalur Puncak.
Ngapain sih ikut-ikutan lari? Selain karena alasan tahun 2017 yang saya ceritakan diatas, sebenarnya ada alasan pribadi juga. Saya ingin tetap sehat, mampu bergerak secara aktif dan mandiri sampai lanjut usia. Almarhumah ibunda dulu sempat mengalami radang sendi/osteoarthritis dan membuat beliau kesulitan berjalan dan harus menggunakan kursi roda sampai akhir usianya. Salah satu faktor pemicu saat itu adalah karena ibunda mempunyai berat badan berlebih, yang dengan semakin bertambahnya usia dan juga kondisi lutut beliau semakin membuat susah untuk menurunkan berat badan agar tidak semakin membebani sendi lutut yang terkena radang sendi tersebut. Jadi rutin olahraga lari ini adalah juga ikhtiar saya untuk menjaga berat badan agar tidak naik berlebihan.
Dari yang awalnya di 2017 baru ikut-ikutan berlari, sampai akhirnya rutin berlari, akhirnya tergoda juga untuk mencoba ikutan Marathon, ini yang beneran lari dengan jarak 42 kilometer itu ya. Btw, 42 kilometer itu seberapa jauh sih? Itu kira-kira jarak yang mirip dari kompleks GAS ke Sumarecon Bogor lewat toll Jagorawi.
Kenapa sih sampai tergoda mau nyobain? Yaaa namanya juga manusia biasa, mendengar cerita teman-teman termasuk para senior yang lebih tua dan sudah berhasil mengikuti marathon, jadi berfikir; wah kayaknya bisa nih, asal latihan lebih serius!! Katanya ikut Marathon itu menguji tidak hanya otot-otot kaki dan badan kita, tetapi terlebih lagi yang diuji adalah otot-otot kesabaran dan mental.
Memilih untuk ikut Marathon pertama kali di Berlin Jerman tahun 2025 lalu dengan harapan bisa berlari di udara yang lebih dingin dari Jakarta dan Bekasi. Karena teriknya matahari itu bikin heartrate lebih cepat naik dan lebih cepat bikin capek. Sementara Berlin di bulan September biasanya bersuhu sekitar belasan derajat celsius. BMW Berlin Marathon ini merupakan satu dari 6 World Major Marathon, jadi Event Marathon yang sangat terkenal dan layak untuk diikuti. Tahun 2025 lalu pesertanya sekitar 80.000 orang yang berasal dari 160 negara di seluruh dunia.
Persiapan untuk mengikuti Marathon ini saya lakukan cukup serius, antara lain dengan berlatih secara rutin bersama pelatih lari yang berpengalaman. Jadi otot-otot terutama kaki dilatih dan dikuatkan agar mampu berlari dengan baik dan tetap kuat sampai titik finish. Latihan serius diikuti mulai sekitar 7 bulan sebelumnya. Jadi nggak ada cerita mendadak ikut Marathon, No no yaaa!
Nah yang lebih seru lagi, di BMW Berlin Marathon 2025 ini ternyata bareng dengan tetangga di GAS juga, yaitu Mbak Sari dan Mas Dicky. Wah nggak nyangka tetanggaan sebelah rumah, tapi ketemuannya pas Marathon di tempat yang sedemikian jauhnya dari kompleks GAS.
Gimana sih supaya bisa ikutan hobby lari? Mulai dulu aja. Mulai dengan jalan santai, jalan lebih cepat, lari-lari kecil campur jalan…. Sampai akhirnya bisa berlari dengan jarak yang semakin jauh. Walau kita hanya mampu berjalan atau berlari dengan lambat, setidaknya kita bergerak lebih cepat dibanding yang hanya duduk diam di sofa sambil meluk toples cemilan dan nonton TV ber jam-jam.
Yok semangat sehat yookkk…
Diterbitkan pada: 21 Mei 2026
Oleh: kompergas